Selfie dan Sakit Jiwa

SELFIE-SAKIT-JIWA

Saking populernya istilah selfie sampai masuk ke dalam kamus besar Oxford dan sempat dinobatkan sebagai Word of The Year. Seperti yang dikutip dari laman BBC, kamus Oxford mendefinisikan istilah ini sebagai aktivitas seseorang memotret diri sendiri, umumnya menggunakan ponsel atau webcam lalu mengunggahnya ke sosial media.

Pandangan Psikologi Komunikasi
Selfie didorong oleh berbagai faktor, tetapi yang motif paling mendasar dari perilaku selfie berasal dari dalam diri atau intrapersonal. Menurut teori Psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud bahwa perilaku manusia didasari oleh alam bawah sadar, tuntutan Id mendorong perilaku manusia untuk melakukan selfie, secara tidak sadar bahwa mereka ingin menjadi pusat perhatian ketika mengunggah foto tersebut ke media sosial.
Teori lain yang mendukung adalah Behaviorisme yang dikembangkan oleh Skinner, bahwa manusia merupakan makhluk yang digerakan semaunya oleh lingkungan atau disebut manusia mesin (homo mecanicus). Perilaku ini kian menjamur karena lingkungan turut berkontribusi terhadap kepopuleran selfie.

Perkembangan Teknologi
Salah satu dampak yang dirasakan dari perkembangan teknologi yaitu menjadi gadget freak hal ini pun yang menjadi faktor utama penyebab seseorang semakin kecanduan untuk selfie mulai dari adanya tongkat narsis (tongsis), smartphone dengan kamera beresolusi tinggi, bahkan dewasa ini produsen smartphone melabeli produk mereka dengan sebutan selfie expert sebagai respon demam selfie di masyarakat Indonesia. Hal ini didukung dengan makin populernya media sosial yang digunakan sebagai wadah bagi para penggunanya membagikan foto atau video pribadi seperti Tumblr dan Instagram.

01-02

Bagi beberapa orang penggemar selfie, aktivitas ini dapat menjadi pemenuh kebutuhannya dalam tahap self esteem yaitu dengan eksistensi dan pengakuan dari orang lain dalam bentuk pujian, komentar dan lain sebagainya.
Berdasarkan penelitian American Psychiatric Association (APA) perilaku selfie dapat dikategorikan menjadi tiga tahapan berdasarkan intensitas aktivitas selfie. Tahap pertama yaitu batas selfitis dimana orang tersebut hanya melakukan selfie setiap hari dalam batas wajar tetapi tidak selalu mengunggahnya ke media sosial. Tahap kedua, selfitis akut yaitu mereka yang mengambil foto dalam batas wajar setiap hari dan selalu mempostingnya ke media sosial. Tahap ketiga, selfitis kronis kondisi ini sudah cukup parah dimana orang tersebut tidak dapat mengendalikan diri untuk mengambil foto diatas ambang wajar yaitu lebih dari 3 foto setiap harinya dan selalu mempostingnya ke media sosial.
Aktivitas selfie berlebihan dan tidak dapat dikendalikan dapat menjadi indikasi seseorang mengalami gangguan kepribadian bahkan sakit jiwa. Selfie dapat menjadi ciri seseorang bersifat narsistik. Seperti salah satu kasus yang menimpa seorang pemuda asal Inggris yaitu Daniel Bowman yang sudah pada tahap selfitis kronis, ia mencoba bunuh diri karena tidak berhasil mendapatkan pose sempurna ketika melakukan selfie, ia dapat melakukan selfie sebanyak 200 kali dalam sehari. Salah satu penyebab pemuda tersebut kecanduan selfie karena ia ingin menarik perhatian lawan jenisnya.

Cara mengatasi perilaku menyimpang tersebut adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri akan dampak buruknya selfie. Pertama, selfie dapat menumbuhkan sifat egosentrisme. Ketika seseorang sedang melakukan selfie maka mereka cenderung untuk fokus dengan gadget sehingga mereka tidak fokus dengan percakapan yang sedang dilakukan. Mereka cenderung tidak melakukan sosialisasi dan tidak akan tercipta komunikasi yang efektif karena mereka terlalu fokus dengan aktivitasnya.
Kedua, menjadikan seseorang memiliki kepercayaan diri berlebihan atau narsistik. Mereka terlalu bangga terhadap dirinya sendiri hingga menganggap bahwa orang lain bahkan lawan berbicara sangat rendah dalam segala hal khususnya penampilan dibandingkan dirinya.
Ketiga, selfie dapat menjadikan seseorang boros dan konsumtif. Karena ingin terlihat sempurna di foto maka orang-orang yang gemar selfie mereka akan merelakan uang mereka untuk membeli barang penunjang penampilan foto seperti kosmetik, tongsis, bahkan yang paling ekstreem seperti kasus Triana Lavey wanita asal Los Angles berusia 30 tahun yang rela menghabiskan lebih dari 15.000 dolar demi melakukan operasi plastik pada dagu dan beberapa bagian lain dimukanya agar dapat tampil cantik ketika selfie.
Keempat, hal ini sudah termasuk dampak menyimpang selfie yaitu dapat menumbuhkan sifat eksibisionis. Kelainan ini biasanya diderita oleh orang yang sangat bangga terhadap keindahan tubuhnya dan tidak menutup kemungkinan mereka adalah pecandu selfie. Mereka memiliki kecenderungan untuk memamerkan tubuhnya bahkan organ-organ intim baik dalam foto maupun secara langsung.
Terakhir yaitu kebalikan dari eksiobisnis yaitu Body Dismorphic Disorder yaitu keadaan dimana seseorang tidak nyaman dengan bentuk badannya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh IOWA University bahwa wanita cenderung membandingkan foto miliknya yang diunggah ke media sosial dengan wanita lain. Hal ini memicu ketidaknyamanan pada bentuk tubuhnya karena membandingkan dengan wanita lain.
Pada akhirnya, lebih bijaklah dalam memanfaatkan teknologi khususnya media sosial karena pengaruh buruk yang paling bisa dirasakan adalah kecanduan selfie dan sifat narsistik yang ditimbulkan olehnya. Peran orang tua dan pemerintah dibutuhkan untuk membantu para pengguna teknologi khususnya anak muda lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi.